Strategi Migrasi Windows ke Linux

From OnnoCenterWiki
Jump to: navigation, search

Sumber: Rusmanto

Date: Sat, 22 Mar 2008 08:40:46 +0700
From: Rusmanto <rus@infolinux.co.id>
To: adnan basalamah <adnan_itb@yahoo.com>
Cc: Onno W. Purbo <onno@indo.net.id>, dodi maryanto <dodi@itb.ac.id>
Subject: Re: building awareness open source

Pak Adnan,


Saya belum secara langsung menangani proses migrasi, hanya pernah mengoordinasi teman-teman yang akan bertugas untuk melakukan migrasi. Sayangnya, hampir semua migrasi itu karena keputusan direksi, sehingga kami tidak tahu apakah pengguna itu terpaksa atau tidak. :) .... Contoh: Samudera Indonesia, Konimex, dan RS Pertamina Jaya.


Saya beberapa kali melakukan liputan (lihat langsung dan wawancara), keluhan migrasi hanya terjadi di beberapa minggu pertama, karena perbedaan menu dan cara. Lebih banyak kasus di perpindahan dari MS Office ke OpenOffice.


Untuk aplikasi Internet hanya terjadi pada proses pemindahan data email, biasanya sedikit masalah dari outlook ke thunderbird. Sedangkan browser dan messenger (teks saja) tidak ada masalah.


Cerita di atas itu untuk kasus migrasi total secara bersama sistem operasi dan aplikasi. Di sebuah perusahaan (jumlah pc sekitar 400 set), proses migrasi dilakukan bertahap, yaitu tahun pertama hanya aplikasi (semua aplikasi open source dipilih yg tersedia di Windows dan Linux). Tahun kedua migrasi dari Windows ke Linux.

Berikut ini rangkuman hasil pengamatan saya di proses migrasi yang tidak menakutkan di beberapa perusahaan:

  1. Buat surat yang ditandatangi pemimpin puncak, isinya keputusan migrasi dengan jaminan tidak akan menyulitkan pengguna selama proses dijalankan sesuai prosedur, seperti backup data sebelum install Linux, install dilakukan oleh tim IT, user tinggal menggunakan, dsb.
  2. Sebagai pelengkap surat (no.1), buat daftar perbedaan di windows dan Linux, MS Offfice dan OpenOffice, penggunaan email, dll. (a) Misalnya untuk menyimpan data di Windows adalah di folder ... dan di Linux adalah di folder ..., untuk mencetak di Windows bla-bla-bla dan di Linux bla-bla-bla. (b) Daftar perbedaan itu dilaminating dan diberikan ke tiap user, bagus lagi dijelaskan dalam sebuah acara, misal seminar. (c) Bagus dilengkapi poster yg di tempel di papan-papan pengumuman.
  3. Pastikan user tidak melakukan sendiri instalasi program. Kalau user diminta install sendiri, siapkan repository lokal dan petunjuk yang mudah untuk install sendiri.
  4. Tugaskan beberapa orang yang standby di telp atau messenger untuk menjawab pertanyaan pengguna. Modalnya orang ini harus sabar.
  5. Ini tips dari konimex dan samudera indonesia, jangan beri peluang user menginstal kembali Windows, meskipun itu dual boot, kecuali darurat dan setelah melalui assessment bahwa tugas dia memang belum dapat digantikan sementara ini oleh Linux, misalnya pembuat gambar dg AutoCAD (qCAD bisa tapi terbatas), software pajak e-SPT (teman-teman masih gagal menggunakan wine), dll.


Rus



Pranala Menarik